√ Doa-doa Tolak Bala, Supaya Terhindar dari Bencana dan Malapetaka

Islam adalah agama yang selalu menaruh harapan, termasuk terhadap kehidupan. Kita juga memahami bahwa semua hari dan semua bulan itu baik. Dan masing-masing memiliki keberkahannya.


Jadi, Islam mengajarkan kepada kita untuk selalu bersikap optimistis dan menaruh harapan yang baik terhadap kehidupan, dan segala yang berhubungannya.

Sebaliknya, ajaran agama islam melarang kita meyakini sangkaan-sangkaan salah, yang menyangkut kemalangan dalam kehidupan, sebagaimana keyakinan orang-orang Jahiliyyah.

Banyak hadist yang menyiratkan perkara tersebut. Diantaranya adalah di dalam Shohih Bukhori dan Shohih Muslim. Disebutkan hadist dari Abu Hurairah RA, dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “ Tidak ada penularan (penyakit), tidak ada thiyarah, tidak ada hamah, dan tidak ada Shafar,”

Lalu, seorang Arab Badwi bertanya, “Wahai Rasulullah... Bagaimana dengan unta yang seht yang kemudian dicampuri unta yang berkudis, shingga membuatnya berkudis juga?”
Maka, Rasulullah shalallhu ‘alaihi wa sallam berkata, “Lalu siapa menulari yang pertama?”

Arti Hamah adalah burung hantu. Orang-orang Jhailiyah meyakini  bahwa, bila burung hantu mengitari rumah salah seorang diantara rumah mereka, maka orang tersebut atau salah satu dari anggota keluarga yang menghuni rumah tersebut akan meninggal.

Maka, maksud tidak ada HAMAH adalah tidak ada tanda-tanda kemalangan (kesialan) dengan burung hantu.

“Tidak ada Shafar” artinya adalah tidak adanya shafar yang diakhirkan daeri waktunya. Dahulu, orang-oran Arab mengakhirkan Bulan Muharram ke Shofar. Dan menjadikan bulan Shofar menjadi bulan yang mulia. 

Maksudnya, mereka dahulu meyakini bahwa adanya kemalangan, dengan masuknya Bulan Shafar. Karena mereka membayangkan di dalam bulan itu terdapat banyak bencana dan ujian. 

Maka, pengertian “tidak ada Shafar” adalah tidak ada kesialan dengan masuknya bulan tersebut.

Imam Ath Thohawi dalam kitabnya Al Atsar, menyebutkan hadist berkenaan dengan perkara ini, yang berbunyi, “iyafah, thiyaroh, dan thorq adalah termasuk syirik.
Apa itu IYAFAH?

Iyafah adalah membuat burung terbang (lari) untuk melihat apakah ia pergi ke kanan atau ke kiri. Orang yang melakukan itu menggunakannya sebagai petunjuk untuk emutuskan melakukan perjalanan atau tidak.

Jika burung itu terbangnya ke arah kanan, mereka memutuskan untuk pergi. Sebaliknya, jika burung itu terbang ke kiri, maka mereka memutuskan untuk tidak pergi.

Thiyaroh, adalah mengambil keputusan tanda-tanda kesialan dengan menggunakan nama-nama burung, warnanya, dan arah terbangnya. Meskipun tidak dibuat terbang secara dipaksa.

Jadi, Thiyaroh lebih umum dibandingkan dengan iyafah. 

Sedangkan, Thorq adalah menggunakan batu kerikil untuk mengambil ciri-ciri keberuntungan atau menulis dengan pasir. Dengan tujuan untuk menunjukkan perkara yang ghoib.

Berkaitan dengan hadist “tidak ada penularan,” terdapat pula hadits-hadist yang diduga oleh sebagian me-nasakh-kan hadist itu.

Di dalam Shahih Bukhari dan Muslim, terdapat hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, dari Nabi shalallahu ‘alaihi w sallam, bahwa beliau bersabda, “Hendaklah pemilik unta yang sakit tidak mendatangi unta yang sehat,”

Maksudnya, larangan untuk mendatangkan untu yang sakit ke tempat yang sehat.
Terdapat pula hadist yang lainnya, “Berlarilah/menyingkirlah dari orang yang berpenyakit kusta seperti berlarinya engkau dari singa,”

Dalam hadist lain lagi disebutkan, “Apabila engkau mendengar ada wabah tho’un di suatu tempat, janganlah engkau memasukinya,”

Hadist-hadist tersebut di atas seolah-olah bertentangan dengan hadist “Tidak ada penularan” sehingga disangka  me-nasakh-kannya. Padahal tidak demikian.

Karena yang dimaksud adalah tidak ada penularn sebagaimana yang diyakini orang-orang Jahiliyah, bahwa penyakit-penyakit itu menular. Demikian juga secara otomatis tanpa meyakini bahwa itu adalah takdir Allah Ta’ala.

Meskipun demikian, dalam proses kehidupan di dunia memang balai (malapetaka) dan bencana itu ada. Diantara keterangan-keterangan ulama berkaitan dengan ini adalah bahwa di hari Rabu terakhir/pemungkas bulan Shafar turun bala yang sangat besar.

Namun, hal ini tidak berarti bulan Shofar adalah bulan bala. Secara keseluruhan, bulan Shofar sama saja dengan bulan-bulan yang lainnya.

Jadi keterangan itu tidak bertentangan dengan keyakinan bahwa semua bulan dan semua hari, itu adalah baik.

Karena itu, di bulan Shafar dan juga sebagai antispiasi kita terhadap kondisi-kondisi yang mungkin bisa terjadi.

Maka, alaSunnah.com persembahkan Amalan Dzikir dan Kumpulan Do’a-do’a Tolak Balai, Supaya Terhindar dari Malapetaka dan Bencana

√  Doa-doa Tolak Bala di Bulan Shafar


Berikut ini adalah do’a-do’a tolak bala yang bisa diamalkan di bulan Shafar. Diantaranya ada yang dibac di hari pertama bulan Shafar, ada yang dibaca setiap hari di bulan Safar. Ada pula doa yang dibaca di ari Rabu terakhir bulan Safar atau yang sering disebut Rebo Wekasan/RabuWekasa/Rabu Pemungkas/

 √  Doa Hari Pertama Bulan Safar


Dari perkataan para ulama sholihin, dapat diketahui bahwa pada hari Rabu terakhir atau Rebo Wekasan di bulan Safar turunyya bala yang sangat besar.

Bahkan bala itu terbagi-bagi sepanjang tahun, turun di hari itu. 

Barang siapa yang ingin selamat dan terjaga dari bala itu, maka hendaklah berdoa di hari pertama bulan Shafar dan di hari Rabu terakhir itu dengan doa di bawah ini.

Barang siapa yang membacanya, Allah Ta’ala akan menyingkirkan darinya keburukan bala itu.

Inilah do’anya:

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat dan kesejahteraan kepada junjungan kami, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam., juga kepada keluarga dan para sahabatnya.

Aku berlindung kepada Allah dari keburukan zaman ini dan orang-orangnya, dan aku berlindung dengan kebesaran-Mu, kebesaran kesucian-Mu. Agar Engkau melindungiku, kedua keluargaku, anak-nakku, istriku, orang-orang ang aku cintai, dan segala yang disayangi hatiku., dari keburukan tahun ini.

Dan jagalah aku dari keburukan yang Engkau tentukan di dalamnya. Palingkanlah dariku keburukan bulan Safar, Wahai Dzat Yang Mulia Pandangan-Nya. 

Dan akhirilah untukku dalam buan dan masa ini dnegan kesalamatan, afiat, dan kebahagiaan untukku, kedua orangtuaku, anak-anakku, istriku, segaa yang disayangi hatiku, da semua muslimin.

Semoga Allah Ta’ala meimpahkan rahmat dan kesejahteraan kepada junjungan kaami, Nabi Muhmmad shalallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada keluarga, dan para sahabatnya.”

√  Do’a Harian Bulan Shafar


Di dalam kitab Kanzun Najah was Surur, karya Syech Abdul Hamid Al Qudsi, pada halaman ke-23 disebutkan, bahwa orang yang membaca setiap hari selama bulan Shafar do’a berikut, niscaya Allah Ta’ala akan menjaganya dari bencana dan musibah di tahun itu sampai bulan Shafar tahun berikutnya.

Dan ia insya Allah tak akan terkena bala apa pun.

Berikut do’a yang dibaca setiap hari di bulan Safar:



√  Amalan dan Do’a yang Harus Dibaca pada terakhir bulan Shafar


Al Imam Al ‘Allamah Asy Syaikh Ad Dairobi dalam kitabnya, Mujarobat, sebagaimana  dikutib dlam kitab Kanzun Najah was Surur mengatakan, sebagian ulama arigin billah menyebutkan bahwa sepanjang tahun turun 320.000 bala/malapetaka, dan semuanya itu ada di Hari Rbu terakhir Buln Shafar.

Maka, hari itu merupakan hari yang paling lemah dalam setahun.

Barang siapa di hari itu melakukan Sholat 4 rakaat. Yang mana setiap rokaatnya setelah membaca surt Al Fatihah, membaca surat Al Kautsar 17x,  Al Ikhlash 5x, AL Falaq & An Naas masing-masing sekali, lalu setelah salam membaca do’a berikut ini. Allah dengan Kemurahan-Nya akan menjaganya dari segala bala yang turun di hari itu.

√  Berikut Do’a Terakhir Bulan Safar:


Cara yang lain disebutkan oleh Syaikh Al Buni dalam kitabnya, Al Firdaus:
Sesungguhnya Allah Ta’ala menurunkan bala di Rbu terkhir bulan Shafar di anatara langit dan bumi, lalu masing-masing bala diambil oleh malaikat yang bertugas atasnya.

Kemudian bala itu dibagi-bagi ke seluruh alam. Maka, kematian, bala, dan kesusahan yang terjadi adalah bala yang dibagi-bagi itu.

Maka, barang sip ingin selamat dari bala itu, hendaklah melakukan Shalat empat rokaat, di rokaat pertama membaca surat AL Fatihah dan Ayat Kursi. Dan di rakaat kedua membaca surat Fatihah dan AL Ikhlash.

Itu dilakukan setiap dua rakaat.

Setelah selesai, membaca sholawat kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi w sallam dengan selawat apa saja.

Lalu, mmbaca do'a berikut ini:

Sebagian ulama sholihin menyebutkan, Rabu terakhir bulan Shafar merupakan hari yang kurang membawa keberuntungan, sehingga dianjurkan  pada hari itu membaca Surat Yasin.

Ketika sampai pada ayat : SALAMUN QOULAN MIN ROBBI RIHIIM...

Dibaca sebanyak 313 kali.

Kemudian membaca do’a berikut ini:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel