Inilah 4 Makam Para Wali Allah di Jakarta yang Layak Diziarahi

Berziarah kepada ulama salafus shaleh sesungguhnya adalah bersilaturahim kepada para wali Allah (kekasih Allah), memberikan hadiah surah AL Fatihah, mendo’akan mereka dan bertawasul kepada mereka. Dengan harapan mereka menjadi wasilah kita menuju Allah Ta’ala.


Banyak sekali para wali yang telah meninggal secara jismani dan berpindah alam ke alam barzakh yang dianggap wali. Berikut 4 Tempat Ziarah Para Wali di Jakarta.

Makam Keramat Al Hawi, Condet


Disebut Al Hawi karena makam tersebut tepat berada di depan Pesantren AL Hawi, pimpinan AL Habib Abdul Qodir Al Haddad. Sementara tokoh yang pertama kali dimakamkan di situ adalah Al Habib Muhsin bin Muhamad Al Athas.

Habib Muhsin Al Athas adalah seorang ulama besar yang menimba ilmu langsung di negeri leluhurnya, Hadhramaut. Habib Muhsin dikenal sebagai seorang ulama yang dermawan .

Karomah Habib Muhsin Al Athas

Pernah pada suatu ketka seorang pengemis mendekati rumahnya. Saat itu, Habib Muhsin sendiri tengah memegang uang. Saat si pengemis tepat berada di hadapan Habib Muhsin dan meminta uang kepadanya, uang yang sedang ada di tangannya bulat-bulat diberikan kepda si pengemis tadi.

Bukan main gembiranya si pengemis, karena jumlah uang yang diberikan Habib Muhsin tergolong sangat banyak.

Melihat jumlah uang yang diberikn oleh Habib Muhsin, salah satu putrinya menghampiribya, “Abah, apa Abah tidak salah melihat atau salah menghitung jumlah uang yang tadi diberikan?”

“Tidak, Putriku. Uang itu memang rezeki bagi dia, bukan untuk kita. Insya Allah, Allah akan menggantinya dengan rezeki yang lebih besar.” jawab Habib Muhsin penuh yakin.

Pada hari itu juga, Habib Muhsin kedatangan seorang tamu, murid yang sangat mencitainya. Subhanallah... tamu itu membawa semua kebutuhan sehari-hari, muali dari beras, daging, buah-buahan, bahkan juga uang dalam jumlah yang lebih banyak dari yang dibrikan Habib Muhsin kepada pengemis tadi.

Makam Habib Kuncung

Makam Keramat Habib Kuncung berlokasi di Kalibata, Jakarta Selatan, tak jauh daei Stasiun Pasar Minggu Baru.

Habib Kuncung adalah julukan dari ulama kharismatik Al Habib Ahmad bin Alwi Al Haddad. Mendapat julukan Habib Kuncung karena kala itu kaum muslimin di tempat tinggalnya, Bogor, mengenalnya sebagai ulama yang sellau mengenakan peci/kopeah yang berkuncung atau berkucir.

Habib Kuncung lebih suka mengembara untuk berniaga, berguru dan berdakwah. Dan banyak pula yang meminta nasihat dari beliau. Ketika para ulama dan habaib menggelar ta’lim, ia sering diminta membacakan ktab yang tengah dikaji, karena penguasaan bahasa Arabnya yang sangat mumpuni dan suaranya yang bagus.

Karomah Habib Kuncung: Pohon Dibakar, Tapi Tidak Terbakar

Sampai saat ini karomahnya terus menjadi bahan kisah dari mulut ke mulut. Diantaranya, suatu ketika Habib Kuncung membakar sampah dalam lubang besar di tengah rimbunan pepohonan pisang. Tentu saja si pemilik pohon pisang tersebut marah besar kepada Habib Kuncung. Beliau hanya diam saja sampai api padam.

Namun, apa yang terjadi kemudian?

Ternyata tidak ada phon pisang yang terbakar. Daunnya tidak ada yang layu. Bahkan pohon itu kemudian malah tumbuh lebih subur.

Makam Keramat Habib Ali Kwitang

Habib Kwitang nama aslinya Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi. Lahir pada hari Ahad, 20 Jumadil Ula 1286H atau 20 April 1870.

Saat usia 10 tahun Habib Kwitang  berangkat dasri Jakarta menuju Hadhramaut, dengan bekal sekadar ongkos tiket kapal laut.

Sebagai anak yang shaleh, sesampainya di Hadhramaut, Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi tidak menyia-nyiakan masa mudanya yang berharga untuk menuntut ilmu yangbermanfaat, sambil mencari rezeki yang halal untuk bekal hidupnya selama menuntut ilmu.

Diantara pekerjaan Habib Kwitang selama di Hadhramaut adalah menggembala kambing. Pekerjaan menggembala kambing ini telah menjadi kebiasaan kebanyakan para shalihin, terutama para nabi. Begitulah hikmah illah dalam mendidik orang-orang besar yang akan diberi tugas memimpin umat.

Setelah belajar di Hadhramaut, Habib Kwitang melanjutkan perjalanan mencari ilmunya sampai ke Tanah Suci, Makkah. Di bawah didikan para ulama besar di sana, diantaranya adalah Mufti Makkah Al Imam Muhammad bin Husin Al Habsyi.

Berkat doa ayah dan ibunya, juga berkat doa para datuknya, khususnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam., dalam masa 6,5 tahun belajar di Makkah, Habib Kwitang telah memperoleh ilmu agama Islam yang luas dan mendalam, yang dibawanya kembali ke Indonesia.

Sepulangnya dari Hadhramaut dsan Makkah, Habib Kwitang masih belajar kepada Mufti Batavia, Habib Utsman bin Yahya, Habib Abdullah bin Muhsin Al Athas (Habib Empang), Habib Umar bin Idrus Al Aydrus, Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al Athas (Pekalongan), Habib Ahmad bin Muhamad Al Muhdhor (Bondowoso).

Habib Kwitang mulai menggelar Maulid, akhirKamis bulan Rabi’ul Awwal setelah wafatnya Habib Muhammad bin Idrus Al Habsyi. Sejak tahun 1338 H/1920 M sampai 1355 H/1937 M, di Madrasah Jamiat Kheir.

Kemudian pada tahun 1356 H/1938 M Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi membangun masjid di Kwitang dengan nam Masjid Ar Riyadh. Sehingga kegiatan Maulid dipindahkan ke masjid tersebut pada tahun 1356 H/ 1937 M.

Habib Keramat Luar Batang

Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus adalah mubaligh, ulama dan wali yang hidup pada abad ke-18. makamnya terletak di seambi kira masjid. di samping maka sang wali, terdapat satu makam lagi yang diyakini sebagai kuburan orang kepercayaaannya, Abdul Qodir, yang konon berdarah Cina.

Habib Husein bin Abu Bkar Alaydrus lahir di Ma'iqab, dekat dengan Hazm, Hadhramaut. seorang anak yatim yang dibesarkan oleh seorang ibu shalihah yang sehari-harinya hidup dari hasil memintal benang di perusahaan tenun tradisional. yang hidup dalam kesederhanaan.

Setelah Habib Husein memasuki usia belia, ibunya menitipkan kepada seorang alim nan sufi. di sanalah Habib Husein mendapatkan gemblengan pembelajaran ilmu thariqah. diantara murid-murid yang sama belajar, Habib Husein lebih memiliki perilaku dan sifat-sifat yang lebih daripada teman-temannya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel