[MANAQIB] Biografi Buya Yahya Darussurur Bandung

Sekelumit Biografi Maha Guru Almarhum Almagfurlah al'aarif billah mursyid thariqoh qodiriyyah wannaqsyabandiyyah Abuya KH. Muhammad Yahya r.a & Manaqib Abuya KH. M. Yahya ra.



عند ذكر الأنبياء من العبادة، وذكر الصالحين كفارة، وذكر الموت صدقة، وذكر القبر يقربكم من الجنة . (رواه الديلمى)

"Tatkala menyebut (menceritakan) para nabi adalah (ditulis) ibadah, menyebut orang-orang sholeh adalah kaffaroh (melebur dosa), mengingat mati adalah sedekah, dan mengingat kubur mendekatkan kalian kepada surga". (HR. Addailami dalam kitab Aljami'ush Shogir dan kitab Faidhul Qodir)

Imam Sufyan bin Uyainah berkata:

عند ذكر الصالحين تنزل الرحمة .
"Tatkala menyebut orang-orang sholeh akan bercucuran rahmat (kasih sayang Alloh SWT)."

Saat kepulangannya ke rohmatulloh, yaitu pada malam Rabu 18 Agustus 2009 M bertepatan dengan 28 Sya'ban 1430 H, berbagai kalangan merasakan kehilangan yang amat mendalam. Ya, puluhan tahun lamanya Abuya Yahya RA menjadi orang tua bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya dengan segala khidmat dan bakti yang penuh terhadap umat Rasululloh SAW.

Dengan penuh kesabaran beliau membimbing masyarakat disekitarnya, juga para santri/at yang mondok dipesantrennya. Dengan penuh kehangatan, beliau mejalin hubungan dengan berbagai lapisan masyarakat. Kesemuanya menyimpan kenangan indah dihati masing-masing. Kenangan terhadap seorang ulama besar yang ikhlas berbakti dijalan Alloh SWT.

Beliau lahir pada hari ahad, 1 Desember 1917 M / 17 Shafar 1336 H. Pendidikan dasar-dasar agama telah dirasakannya sejak dini, karena semenjak kecil beliau hidup dalam suasana religius dibawah bimbingan ayahnya, yang juga seorang ulama, KH. Muhammad Azhari RA. Selain kepada ayahandanya sendiri beliau juga belajar kepada banyak ulama dimasanya.
Mulanya beliau belajar dimadarasah AL-Mu'awanah cianjur. Kemudian beliau menimba berbagai disiplin ilmu syari'at diantaranya kepada KH. Ahmad Zarkasyi RA Utama dan KH. Muhammad Kurdi RA serta kedua putranya, yaitu KH. Ahmad Zaini Dahlan (Buya Elon) dan KH. Muhammad Hasan Imam Rafi'i (Buya Iping) RA dicibabat.

Sejak muda Abuya Yahya rajin bertabarruq keberbagai pesantren, menemui para ulama dan ber-istifadah (mengambil faidah) ilmu, khususnya kepada para ulama ditatar sunda dan sekitarnya. Bahkan dimasa usia setengah bayanya beliau hampir setiap bulan pergi kejakarta untuk hadir dalam majelis-majelis ulama-habaib dijakarta, seperti Habib Ali bin Abdurrohman Alhabsyi, Habib Ali bin Husen Al-atthos dan Habib Salim bin Ahmad bin Jindan Rhadiyalloh 'anhum.

Selain belajar ilmu-ilmu syari'at beliau juga gemar mendalami ilmu thoriqoh, Abuya Yahya RA berthoriqoh Qadiriyyah wan Naqsyabandiyyah, yang beliau ambil ijazahnya langsung dari guru mursyidnya KH. Zainal Abidin, Cirebon. Dalam hal thariqoh beliau juga mendapat ijazah dan aurod khusus dari gurunya yaitu KH. Muhammad Zarkasyi (Mama Eyang Cibaduyut).

Ijazah Thoriqoh Alawiyyah dari Al Quthub Al Habib Abdulloh Bilfaqih, Malang


Selain itu beliau juga mengambil ijazah Thariqoh Alawiyyah yang diterimanya langsung dari guru Musryidnya Samahatul Imam Al Hafizh Almusnid Al Quthub Al Habib Abdulloh RA bin Samahatul Imam Al Habib Abdul Qodir Bilfaqih RA, Malang, Jawa timur.

Dalam hal ini ada kisah unik yang dialami Abuya Yahya RA semasa hidupnya, yaitu Yang mulia Alhabib Abdulloh RA setiap menerima tamu yang datang kerumahnya beliau (Alhabib Abdulloh RA) menerima tamu tersebut diruang tamu, hanya ada dua orang yang diterima Alhabib Abdulloh didalam kamar khusus, salah satunya adalah Abuya Yahya RA.

Abuya Yahya pun mengambil ijazah aurod alawiyyah sekaligus khirqoh (sejenis kain) sufi dari salah seorang gurunya dijakarta yaitu Alhabib Ali bin Husen Alatthos RA.

Sebagaimana kebiasan para ulama salaf, Abuya Yahya RA semasa hidupnya juga istiqomah pada setiap hari jum'at dan sabtu berziarah ke maqom orang tua dan guru-gurunya yang telah wafat sampai beberapa minggu sebelum jatuh sakit hingga akhir usia kewafatannya, bahkan maqom para auliya yang berada diluar wilayah bandung terutama para wali songo bisa tiga kali dalam setahun beliau ziarahi asalkan disaat kondisi badannya yang sangat memungkinkan, begitulah hal ahwal ketawadhuan, walaupun beliau seorang wali masih saja sangat membutuhkan syafa'at para wali wali yang lain.

Saat kepergiannya ketanah suci Makkah untuk menunaikan ibadah haji beliau tak menyia-nyiakan kesempatan untuk berkunjung dan mengambil ijazah kitab-kitab hadits dari Assayyid Alwi bin Abbas Al Maliki ayahanda dari Assayyid Muhammad Al Maliki RA, dan sepulangnya dari tanah suci beliau mengabdi dipengadilan agama atas perintah gurunya KH. Ahmad Zaini Dahlan (Abuya Elon), sampai beliau dipercaya menjabat ketua pengadilan agama bandung.

Selepas pengabdian beliau dipengadilan agama kemudian beliau bermuqim di Pesantren Darussurur Pusat yang beliau dirikan di desa Utama-Cimahi, lalu beliau hijrah ke Desa Lagadar dan disanalah beliau fokus menyebarkan ilmu-ilmu agama,mendidik dan menyeru manusia untuk mengenal, mendekat dan beribadah kepada Alloh SWT.

Selama menjadi pegawai hingga menjabat tingkatan pejabat dilingkungan pengadilan agama bandung beliau dikenal dengan sifat-sifatnya yang amanah dan waro' uang gaji bulanan yang beliau terima tak pernah digunakan untuk kepentingan pribadi tapi langsung beliau bagi bagikan kepada pihak-pihak yang menurutnya memerlukan bantuan.

Abuya Yahya ra adalah sosok ulama 'aamilin yang selalu mencontohkan terlebih dahulu apa yang akan diserukannya kepada orang lain seperti sholat-sholat sunat, puasa sunnat, rajin menuntut ilmu dll. Beliau telah menjadi contoh sempurna bagi orang lain terutama bagi murid2nya atas apa yang beliau serukan dan anjurkan, dan istiqomah dalam menjalankan amalan2 tersebut.

Semangatnya dalam menebar ilmu ilmu agama tak kalah semangatnya saat menimba ilmu,bila biasanya pada suatu majelis para murid menunggu kedatangan gurunya,tidak demikian halnya dimajelis yang beliau asuh beliaulah yang datang terlebih dahulu sebelum murid-muridnya datang.
Tak ada kata lelah dalam kamus belajar dan mengajar Abuya Yahya ra sampai tidurnya sehari haripun karena kelelahan hingga beliau tidak sengaja untuk tidur, maka tidur yang mencarinya bukan beliau yang mencari tidur, dan itu kebiasaanya sejak usia muda. Walhasil sejak muda hingga usia tua beliu tetap belajar dan mengajarkan kitab-kitab ilmu agama , bisa dikatakan selamanya beliau bersahabat dengan kitab kitab ilmu agama.

Baginya semua muridnya adalah anaknya, Kasih sayangnya sangat dirasakan dan dirindukan para santri dan murid muridnya, semuanya disayang dan diayominya sepenuh jiwa, karenanya semua santrinya merasa sebagai yang disayang olehnya.

Abuya Yahya RA mengajarkan ilmu agama dengan penuh kasih sayang, kesabaran dan keikhlasan.
Pada suatu hari saat beliau mengontrol bangunan mesjid yg beliau dirikan ada seorang tukang bangunan sedang beristirahat mamakai celana pendek hingga auratnya terlihat, beliau tak suka terhadap hal yang melanggar syari'at, namun beliau memang sosok ulama yg bijak beliau tidak marah-marah, lalu beliau kembali masuk kedalam rumah mengambil kain sarungnya dan diberikannya kepada orang itu "pakai sarung ini, kalau pakai celana seperti itu tidak bagus" begitu kira kira ucapnya saat itu, orang itu pun menerima kain sarung tersebut dan segera mengganti celana pendek yang tengah dipakainya, sampai sekarang orang yang diberinya sarung itu tak pernah lagi menampakkan auratnya didepan umum.

Pesan yang beliau sering sampaikan kepada santri santrinya, sebagaimana pesan yang beliau terima dari gurunya KH. Ahmad Zaini Dahlan (Abuya Elon) adalah jangan sampai tidak membaca dan mengkaji kitab Ihya 'Ulumuddin dan kitab Tafsir Jalalain secara terus menerus, sebab didalamnya terkandung banyak hikmah agama yang tak ternilai harganya sebagai bekal bagi setiap muslim/at dalam mengarungi kehidupan mereka.

Mendahulukan orang lain adalah salah satu ciri khas yang melekat kuat, dan yang menjadi teladan indah bagi para santri beliau adalah sifatnya yang murah hati, bila acara peringatan hari besar islam digelar dipesantrennya atau acara keagamaan lainnya beliau selalu berbagi rizqi dengan masyarakat luas. Dan setiap pagi sebelum masuk majelis tempatnya mengajar, beliau membagi bagikan uang ke santri santrinya. Kebiasaannya ini masih tersimpan kuat dalam memori para santrinya dan menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi mereka.

Abuya Yahya RA juga seorang yang sangat menghormati dan memperhatikan tamu tamunya, disisi lain beliau juga kerap menyembunyikan penyakit yang beliau alami semasa hidupnya, apalagi didepan tamu tamunya, dan kapan saja tamunya datang, jam berapapun tengah malam sekalipun akan beliau temui meski beliau dalam keadaan sakit.

Untuk kebutuhan hidup, Abuya Yahya RA sendiri beliau bukan tergolong orang yang neko-neko, salah seorang putranya menyaksikan sehabis mengajar ngaji sang putra melihat ayahnya mau makan, diperhatikannya secara seksama, ternyata ayahnya tidak memanggil istrinya, beliau berjalan menuju dapur sendiri lalu mengambil makanan sendiri, makanan yang diambilpun hanya sedikit nasi yang hanya ditaburi garam bahkan nasi yang dimakannya pun nasi kemarin.

Beliau memang seorang yang sangat penyabar. Walau demikian kemarahan dan ketegasannya sesekali pernah terlihat, yaitu disaat beliau mengetahui ada hak hak orang yang diambil orang lain beliau pun akan berbicara tegas dengan gagah berani terkait hal itu, sementara bila hak-hak pribadinya sendiri terdzolimi lagi-lagi sifat sabarnya menyelimuti kepribadiannya secara sempurna dan beliau tampak biasa biasa saja bila hak haknya diambil orang lain.

Dalam keseharian beliau tak mau merepotkan orang lain bahkan sampai sepuhpun beliau masih mencuci pakaiannya sendiri dan mencangkul tanah miliknya sendiri. Dari semua sikap dan tindak tanduk Abuya Yahya RA tampak jelas bahwa beliau seorang yang lebih mengutamakan orang lain dibanding dirinya sendiri beliau selalu ingin membahagiakan orang lain, sementara kebahagiaan bagi dirinya adalah kebahagiaan bila beliau terus dapat menyelam dalam bahtera ilmu.

Tak mengherankan bila beliau juga sangat produktif menukil dan menulis kitab aqidah, fiqih, tashawwuf, doa' do'a dan qoshidah-qoshidah berbahasa arab dan diterjemahkannya kedalam bahasa sunda kurang lebih sebanyak 51 kitab dan uniknya kitab kitab yang beliau terjemahkan tersebut walaupun terjemahannya bahasa sunda hurup hurupnya tetap menggunakan hurup arab.

Abuya Yahya RA karena sangat cintanya pada ilmu, beliau memasukkan putra/i nya ke pesantren khususnya Pesantren Darul Hadits Alfaqihiyyah, Malang asuhan Al Hafizh Al Musnid Al Habib Abdulloh Bilfaqih RA menjadi pilihannya.

Sepeninggal Abuya Yahya RA saat ini putranya yaitu KH.Sulaeman Jazuli (Abuya Anom) beserta saudara-saudaranya yang melanjutkan dakwahnya.

Semoga Alloh memberi kekuatan kepada mereka semua agar dapat istiqomah berjalan diatas jalan yang dirintis oleh Sang Ayah ridhiyalloh 'anhu. Aaamiin

Disarikan dari Majalah alkisah no.06/tahun XI/18-31 Maret 2013. (Muhibbin Darussurur/santrimandiri.net)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel