Maulidan, Sholawatan, Tahlilan, adalah Tradisi Islam di Nusantara

Maulidan, Sholawatan, Tahlilan, adalah Tradisi Islam di Nusantara yang sampai hari ini masih berjalan. Bahkan, syiarnya semakin masif.

Hadirnya Islam di Nusantara, telah menjadi mayoritas. Walaupun demikian, Islam Nusantara selalu mengedepankan paradigmanya ke dunia Internasional. Yaitu, Islam yang damai, ramah, santun, damai, dan toleran akan keberagaman. Serta megnghargai tradisi dan budaya lokal.


Islam Nusantara berarti Islam yang dibangun di atas budaya. Selama budaya itu tidak bertentangan dengan Syariat Islam, kita lestarikan dan dirawat. 

Agama dibangun di atas infrastruktur di atas budaya. Sementara, budaya menjadi pondasi agama. Maka, keduanya saling menguatkan. Budaya lestari sampai saat ini, dan Islam pun semakin kuat.

Kita mafhumi, bahwa Islam disebarkan di Nusantara oleh semua ulama yang alim dalam urusan ilmu agama. bagaimana perjalanan dakwah para wali sembilan menyebarkan agama Islam di Nusantara ini sangat menghormati budaya Nusantara. Sehingga masyarakat nusantara beramai-ramai masuk islam. 

Perjalanan dakwah wali songo selama lima puluh tahun di Nusantara ini tanpa kekerasan, tanpa peperangan.  

Kehadiran Islam di Nusantara tak terlepas dari budaya dan tradisi di Nusantara. Islam Nusantara menjadi referensi dunia karena metode dakwahnya yang meneruskan estafet dakwah dari para wali songo. 

Berdasarkan kealiman para wali songo, yang telah barang tentu melebihi kealiman orang-orang sekarang, mereka melakukan inovasi dan melestarikan tradisi-tradisi Islam yang dilangsungkan hingga sekarang; seperti tradisi Yasinan, Tahlilan tujuh hari, 40 hari, seratus hari, 1000 hari dan lain-lain. 

Namun, masih banyak orang yang pemahamannya dangkal mengenai Maulidan, Sholawatan, Tahlilan yang sudah menjadi tradisi kaum muslimin di Nusantara.

Maka, kali ini ALASUNNAH akan membeberkan: 
Apa itu Maulidan?
Apa itu Sholawatan?
Bagaimana Cara Tahlilan?

MAULIDAN, Tradisi Islam di Nusantara Berbasis Mahabbatur Rasul

Ketika bulan Rabi'ul Awwa, kaum muslimin selalu mengenang hari kelahiran Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam. Terlebih lagi bagi kaum muslimin di NUsantara 

Kebanyakan dari masyarakat Muslim di Indonesia merayakan dengan adat dan tradisi di daerah masing-masing. Setiap wilayah bisa saja berbeda-beda cara memperingatinya. Ada yang menggelar tabligh akbar, gema sholawat, atau hanya membaca Kiab Maulid di rumah-rumah atau mushola. Hal ini tergantung pada situasi dan kondisi kebutuhan masyarakat.

Penting!!!
Artikel dari IMNU: Kita Harus Satu Kata Memerangi Teroris Berkedok Agama

Tradisi maulidan ini juga mengakar di mayoritas masyarakat muslim Nusantara, terlebih lagi masyarakat yang berhaluan Ahlussunnah Waljamaah, dalam urusan ini ialah warga Nahdatul Ulama baik struktural maupun kultural.

Walaupun peringatan maulid Nabi Muhammad shalallau 'alaihi wa sallam., identik dengan bulan Rabi'ul Awwal, namun tidak sedikit dari masyarakat yang memperingatinya di luar bulan tersebut. 

Misalnya, di majelis-majelis atau masjid yang seringkali mengagendakan pembacaan syair maulid. Mulai dari Kitab Maulid yang Populer yaitu Barjanzi, Simtud Durrar, atau yang paling mutaakhir Adh Dhiyaul Lami' gubahan Guru Mulia Al Musnid AL Habib Umar bin Hafizh.


Maulidan tidak hanya sekedar suatu pekerjaan keagamaan semata, namun bagi muslimin nusantara mayoritas, maulidan adalah sebuah tradisi Islam di Nusantara yang terus dijalankan. Karena, maulidan merupakan amalan positif yang tentunya pun bernilai spiritualitas bagi muslimin di Nusantara.

Lebih ari itu, maulidan adalah upaya untuk selalu menambah kecintaan, dan meneladani sepak terjang Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam (Mahabbatur Rasul)

TAHLILAN, Tradisi Islam di Nusantara Berbasis Tauhid

Kata Tahlilan berasal dari bahasa Arab "tahliilun" (تَهْلِيْلٌ) dari asal kata: هَلَّلَ – يُهَلِّلُ – تَهْلِيْلا
yang berarti menyampaikan kalimat: لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ . 

Kata tahlil dengan definisi ini telah hadir dan terdapat di masa Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana dalam sabda beliau shalallahu 'alaihi wa sallam:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى .رواه مسلم

“Dari Abu Dzar radliallahu 'anhu, dari Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, bahwasannya beliau bersabda: 

"Bahwasanya pada masing-masing tulang sendi kalian terdapat sedekah. Setiap bacaan tasbih itu ialah sedekah, masing-masing bacaan tahmid itu ialah sedekah, masing-masing bacaan tahlil itu ialah sedekah, masing-masing bacaan takbir itu ialah sedekah, dan amar ma’ruf nahi munkar itu ialah sedekah, dan memadai semua tersebut dua rakaat yang dilaksanakan seseorang dari sholat Dluha.” (HR. Muslim).

Bagaimana dengan tradisi Tahlilan? 

Masyarakat Nusantara sebelum datangnya Islam yang dibawa oleh para ulama, terutama oleh para wali songo, sudah mengenal tradisi kumpul-kumpul guna berbela sungkawa semua tetangga mereka yang sedang kesusahan sebab ditinggal mati keluarganya. 

Mungkin saat berkumpul, mereka pun membaca mantra-mantra sebagai do’a. Para wali songo yang menjadi juru da’wah ketika itu tidak serta merta menghilangkan tradisi masyarakat pada saat itu. melainkan, tradisi kumpul-kumpulnya tetap dipelihara, naun kontennya yang diubah.


Bacaan-bacaan mantra dan atau persembahan untuk leluhur/dewa-dewa dihilangkan sama sekali, diganti dengan bacaan ayat al-Qur’an dan kalimah thayyibah.

Lalu dipilihnya nama yang pas guna tradisi ini untuk memudahkan penyebutan kepada mereka, yakni tahlilan. Penyebutan nama tahlilan guna acara ini bukan tanpa sengaja. 

Kata tahlilan diambil dari kata tahliilun,  yaitu bacaan kalimah tauhid “laa ilaaha illa Allah”

Bacaan ini adalah salah satu saja dari sekian bacaan yang dibaca pada saat tahlilan. Namun, nama bacaan ini yang dipilih sebagai nama dari tradisi ini sampai-sampai menjadi tahlilan. Hal ini menandakan, bahwa tauhid menjadi ruh dari tradisi tahlilan ini. 

Para Wali Songo yang menyebarkan Islam di Nusantara ini memang sangat arif nan bijaksana dalam menyikapi tradisi yang berkembang di masyarakat saat itu.

Tidak seluruh tradisi yang berkembang di masyarakat dihapuskan. Bahkan, sejumlah tradisi telah diupgrade sedemikian rupa, yang selanjutnya digunakan sebagai media dan lahan da’wah. 

Penutup:

Maulidan, Sholawatan, Tahlilan adalah Tradisi Islam di Nusantara yang dengan izin Allah Ta'ala sampai saat ini terus dilestarikan, dibiasakan, dibudayakan. Karena begitu banyak nilai-nilai positif dan pahala jika dirunut satu per satu.


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel