Berita Duka Musibah Buat Umat di Bulan Desember 2020

Berita Duka Musibah Buat Umat di Bulan Desember 2020

Santri Mandiri -  Di dalam Kitab Tanqihul Qaul, Imam Al Hafizh Jalaluddin bin Abdurrahman bin Abu Bakar As-Suyuthi, menuliskan dalam kitabnya sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata:

وقال عليه الصلاة والسلام: {مَنْ لَمْ يَحْزَنْ لِمَوْتِ العَالِمِ، فَهُوَ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ} قالها ثلاث مرات

Artinya: "Barangsiapa yang tidak sedih dengan kematian ulama maka dia adalah munafik, munafik, munafik. Sampai 3 kali Nabi mengatakan Munafik".

Menangis karena meninggalnya seorang ulama adalah sebuah perkara yang besar di sisi Allah. 

Sebuah perkara yang akan mendatangkan konsekuensi bagi kita yang ditinggalkan jika kita ternyata bukan orang-orang yang senantisa mendengar petuah/wejangan mereka. 

Menangislah jika selama ini kita ternyata belum ada rasa cinta di hati kita kepada para ulama.

عن ابن عباس ، في قوله تعالى : أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الأَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا سورة الرعد آية 41 قال : موت علمائها . وللبيهقي من حديث معروف بن خربوذ ، عن أبي جعفر ، أنه قال : موت عالم أحب إلى إبليس من موت سبعين عابدا .

Artinya: Dari Ibnu Abbas ra. tentang firman Allah, “Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah, lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya?.” (Al-Ra’d: 41). 

Beliau mengatakan tentang (مِنْ أَطْرَافِهَا = dari tepi-tepinya) adalah wafatnya para ulama. 

Dan menurut Imam Baihaqi dari hadits Ma’ruf bin Kharbudz dari Abu Ja’far ra berkata, “Kematian ulama lebih dicintai iblis daripada kematian 70 orang ahli Ibadah.”

Al Quran secara implisit mengisyaratkan bahwa wafatnya ulama sebagai sebuah penyebab kehancuran dunia, yaitu firman Allah yang berbunyi:

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الأرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا وَاللَّهُ يَحْكُمُ لا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Artinya:

 “Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah, lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya?” (Ar-Ra’d: 41).

Menurut beberapa ahli tafsir seperti Ibnu Abbas dan Mujahid, ayat ini berkaitan dengan kehancuran bumi (kharab ad-dunya). 

Sedangkan kehancuran bumi dalam ayat ini adalah dengan meninggalnya para ulama (Tafsir Ibnu Katsir 4/472)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menegaskan ulama sebagai penerusnya, juga menegaskan wafatnya para ulama sebagai musibah. Rasulullah bersabda:

مَوْتُ الْعَالِمِ مُصِيبَةٌ لا تُجْبَرُ ، وَثُلْمَةٌ لا تُسَدُّ , وَنَجْمٌ طُمِسَ ، مَوْتُ قَبِيلَةٍ أَيْسَرُ مِنْ مَوْتِ عَالِمٍ

Artinya: 

“Meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran yang tak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya daripada meninggalnya satu orang ulama” 

(HR al-Thabrani dalam Mujam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Abu Darda’) (Sumber: Duta Islam)

Ulama Cipete KH Abdul Hay Naim Wafat Siang, 29 Desember 2020

Ulama Cipete KH Abdul Hay Naim Wafat


Warga DKI Jakarta kembali berduka atas wafatnya KH Abdul Hay Naim Lc, Cipete, Jakarta Selatan. KH Abdul Hay Naim wafat pada Selasa siang, 29 Desember 2020. Almarhum KH Abdul Hay Naim lahir di Jakarta, pada 1940. 

Kabar duka atas wafatnya Mustasyar PWNU DKI Jakarta KH Abdul Hay Naim ini tersiar pada banyak grup-grup media sosial. 

"Telah meninggal guru, orang tua kita Abuya KH Abdul Hay Naim." 

Doa ampunan dari masyarakat mengalir deras untuk almarhum KH Abdul Hay Naim. 

 "Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Allahummaghfir lahu warhamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu.. wala tahrimna ajrahu.... waj’alil jannata matswaahu... Insya Allah tindakipun Almarhum senantiasa beserta kasih sayang Gusti...lahu alfatihah," kata Kata Katib Syuriyah PBNU KH Zulfa Musthofa.

 "Semoga almarhum diterima segala amal baiknya, diampuni segala dosanya, dan diberikan tempat yg sebaik-baiknya. Amiiin. Alfaatihah," tulisan warganet. 

Almarhum adalah putra dari KH M Naim, salah seorang kiai NU yang berpengaruh di Jakarta Selatan pada zamannya. Almarhum KH Abdul Hay Naim mengajar di banyak majelis taklim. 

Setelah ngaji di Jakarta dan mondok di Pesantren Tebuireng, almarhum yang juga sahabat Gus Dur ini melanjutkan pendidikan tingginya di Timur Tengah. Almarhum menamatkan kuliahnya di Fakultas Sastra, Universitas Baghdad. 

Almarhum juga alumnus Pesantren Tebuireng angkatan 1960-an. Almarhum wafat pada usia kurang lebih 80 tahun. 

Almarhum Kiai Abdul Hay merupakan sosok kiai yang gigih mempertahankan pandangannya. Ia berani membayar risiko sosial. Ia terus berjalan di atas ijtihadnya meski harus "melawan arus." Almarhum akan dimakamkan besok pagi, Rabu 30 Desember 2020.


Berita Duka Musibah Umat

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel