17 Adab Tidur yang diajarkan dalam Islam

17 Adab Tidur yang diajarkan dalam Islam
adab tidur di dalam islam




Santri Mandiri - Tidur merupakan salah satu kebutuhan manusia. Analisis dari psikologis menyatakan ketika manusia kekurangan untuk mendapatkan tidur yang baik, maka salah satu organ tubuh didalamnya akan mengalami gangguan. Termasuk otak. Didalam islam diajarkan adab-adab seseorang ketika tidur dan selepas tidur. Namun untuk kali ini kita akan membahas 17 adab tidur yang diajarkan dalam islam.



Ketika kamu begadang pada saat waktu malam, maka bisa dipastikan. Keesokan harinya kamu akan terasa tidak bersemangat dalam melakukan aktifitas. Bahkan ketika kamu mengendarai baik motor mobil dan yang lainnya. Sebab kekurangan tidur, yang harusnya 8jam ini malah 1jam tidurnya. Tetapi setiap orang itu berbeda-beda.



Terdapat beberapa orang ketika 1jam tidur mereka merasa puas didalam tidurnya, dan bersemangat keesokan harinya. Tetapi ada juga orang yang sebaliknya. Oleh karenanya kita harus tidur yang cukup, agar aktifitas yang kita lakukan itu dapat berjalan dengan lancar atau bersemangat ketika melakukannya.



Ini Dia 17 Adab Tidur Dalam Islam

Adapun tentang tidur pada malam hari, disebutkan di dalam Al-Quran:

وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya: “Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.” (QS Al-Qashash [28]: 73).

Pada ayat lain disebutkan:

وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا
Artinya: “Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat”. (QS An-Naba [78]: 9).

1. Niatkan untuk sholat tahajud dengan ucap bismillah

Ini seperti disebutkan di dalam Hadits Riwayat An-Nasa’i:


مَنْ أَتَى فِرَاشَهُ، وَهُوَ يَنْوِي أَنْ يَقُوْمَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ، فَغَلَبَهُ النَّوْمُ حَتَّى يُصْبِحَ، كُتِبَ لَهُ مَا نَوَى، وَكَانَ نَوْمُهُ صَدَقَةً مِنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Artinya: “Barangsiapa yang naik ke atas ranjangnya (untuk tidur), sedang ia telah berniat untuk bangun melakukan shalat di malam hari (tahajud). Namun ia tertidur hingga waktu Shubuh, maka ditulis baginya pahala apa yang ia niatkan dan tidurnya itu adalah sedekah dari Tuhannya.”



2. Hendaknya masih mempunyai wudhu

Ini sesuai anjuran Rasul:


إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ.

Artinya: “Apabila engkau hendak mendatangi pembaringan (tidur), maka hendaklah berwudhu’ terlebih dahulu sebagaimana wudhu’mu untuk melakukan shalat.” (HR Bukhari dan Muslim).



3. Segeralah tidur selepas waktu isya

Di dalam hadits disebutkan, yang artinya: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya (Isya).” (HR Bukhari).



4. Berbaring dengan menghadap kesebelah kanan

sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:


اِضْطَجِعْ عَلَى شَقِّكَ اْلأَيْمَنِ.

Artinya: “Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu.” (HR Bukhari dan Muslim ).



5. Boleh tidur dengan terlentang



Rasulullah SAW. pernah tidur telentang di masjid dengan meletakkan satu kaki di atas kaki lainnya. Tentu tidur dalam keadaan terlentang dengan menjaga aurat tidak terbuka.



6. Jangan tidur telungkup(tengkurep)


إِنَّهَا ضَجْعَةٌ يَبْغَضُهَا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ.

Artinya: “Sesungguhnya (posisi tidur tengkurap) itu adalah posisi tidur yang dimurkai oleh Allah Azza wa Jalla.” (HR Abu Dawud).



7. Mandi ayat

Maksudnya, membaca tiga Qul (Qul Huwallaahu Ahad, Qul a’uudzu bi Rabbil falaq dan Qul a’uudzu bi Rabbin naas).


Setelah membaca tiga surat tersebut tiupkan ke kedua tangan, lalu usapkan ke seluruh tubuh, dimulai dari wajah terus ke badan hingga ke kaki/yang terjangkau, tiga kali. (HR Bukhari dan Muslim).



8. Membaca ayat suci al-quran

Antara lain 10 Ayat Al-Baqarah : empat ayat Surat Al-Baqarah (ayat 1-4), ayat kursi (Al-Baqarah 255) plus dua ayat sesudahnya (ayat 256-257), dan tiga akhir Al-Baqarah (ayat 284-286).


Ayat-ayat tersebut untuk mengusir syaitan yang tinggal di dalam rumah.



9. Bersihkan tempat tidur

Khawatir ada makhluk di situ seperti semut, debu, atau lainnya.



10. Baca dzikir fathimah

Oleh karena awalnya diajarkan Nabi kepada puterinya, Fathimah. Yaitu seperti dzikir sesudah shalat, yaitu: membaca Tasbih (Subhaanallaah) 33x, Tahmid (Alhamdulillah) 33x, Takbir (Allahu Akbar) 33x, plus Tahlil (Laa Ilaaha illallah) 1x, jumlah 100.



11. Muhasabah diri

Yakni  dengan bertaubat, beristighfar, memaafkan saudaranya, evaluasi amalan seharian, menyampaikan wasiat jika diperlukan, dsb).


Sehingga bersih tempat tidur, bersih pula hati.



12. Baca doa tidur


باسمِكَ اللَّهُمَ أَحْيا وأمُوتُ

Artinya: “Dengan nama-Mu ya Allah, aku hidup dan aku mati.” (HR Bukhari).



13. Ketika bangun membaca doa


اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ

Artinya: “Segala puji bagi Allah, yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan.” (HR Bukhari).



14. Ketika bermimpi baik, itu berarti bagian dari kenabian

Mimpi baik boleh diceritakan kepada orang lain esok harinya. Nabi menyebutkan, “Mimpi seorang mukmin merupakan satu bagian dari 46 bagian kenabian.”

Syaikh Al-‘Utsaimin menjelaskan, adalah apa yang diimpikan seorang mukmin itu dapat terjadi dengan benar, karena mimpi tersebut merupakan permisalan yang dibuat bagi orang yang bermimpi.


Dari sisi ini mimpi diibaratkan seperti kenabian dalam kebenaran apa yang ditunjukkannya. Walaupun mimpi berbeda dengan kenabian.

Karena itulah mimpi dikatakan satu dari 46 bagian kenabian. Adapun angka 46 bagian termasuk perkara tauqifiyyah, tidak ada yang mengetahui hikmahnya sebagaimana halnya bilangan-bilangan rakaat dalam shalat-shalat.



15. Ketika bermimpi buruk, hendaknya tidak diceritakan

Jika bermimpi buruk janganlah diceritakan ke orang lain, karena itu dari syaitan. Berlindunglah dari godaan syaitan.

Syaitan hendak membuat sedih kaum mukminin, sebagaimana firman Allah, yang artinya: “Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu dari setan, dengan tujuan agar orang-orang beriman itu bersedih hati, padahal pembicaraan itu tidaklah memberi mudarat sedikitpun kepada mereka kecuali dengan izin Allah ….” (QS Al-Mujadalah: 10).

Maka, jika bermimpi buruk dan terbangun, berlindunglah kepada Allah dari keburukan mimpi, dengan membaca Ta’awudz.


Kemudian berilah isyarat meludah sedikit ke arah kiri sebanyak tiga kali, lalu mengubah posisi tidurnya. Baik pula bangun untuk berwudhu dan membaca ayat-ayat dan dzikir seperti hendak tidur semula.



16. Dianjurkan tidur siang walaupun itu sebentar

Tidur siang (Qaylulah) dipetik dari kata qalil, artinya sedikit. Yaitu tidur sejenak barang 15-30 menit, sebelum atau sesudah shalat Dzuhur.

Orang Barat malah menerapkannya, dan mereka menyebutkannya “power snap”. Yaitu tidur untuk merenggangkan otot dan mengembalikan stamina tubuh.

Qaylulah juga bisa dilakukan setelah shalat Tahajjud sebelum Subuh, dengan catatan tentunya Subuhnya jangan sampai terlewatkan pada awal waktu.


17. Usahakan tidak tidur pada saat waktu-waktu yang dilarang/tidak dianjurkan

Seperti setelah shalat Subuh (Haylulah), setelah shalat Ashar (Aylulah) dan setelah shalat Maghrib.

Tidur setelah shalat Subuh (Haylulah) diambil dari kata hala-yahulu-haulan yang bermakna mencegah atau menghalangi. Kebiasaan tidur setelah shalat Subuh akan menghalangi datang rejeki kepada seseorang. Ini waktu tidak yang sangat tidak dianjurkan.

Kecuali mungkin orang-orang yang pada malam harinya mendapat tugas ronda (jaga malam), atau membantu orang lain hingga menjelang pagi (seperti ketika ada musibah, bencana), jihad di jalan Allah yang memaksanya sampai menjelang pagi,m atau penyakit tertentu yang memaksanya tidur pagi.


Tentu ini bukan menjadi kebiasaan, hanya dalam keadaan tertentu. Juga sebaiknya menunggu sedikit waktu, untuk diisi dulu dengan dzikir-dzikir dan doa.

Maka Ulama fiqih menghukumi tidur setelah shalat Shubuh sebagai makruh karena pada saat itu rezki akan dibagikan sehingga tidak baik tidur pada waktu tersebut.

Ibnu Abbas setelah melihat anaknya dalam keadaan tidur setelah shalat Shubuh, dia berkata kepada anaknya, “Bangunlah, apakah kamu hendak tidur di waktu rezki dibagikan?”

Kebiasaan tidur setelah shalat Shubuh menurut Umar bin Khattab juga dapat menyebabkan otak tumpul,  terputusnya pernikahan dan menyebabkan tabiat menjadi kasar dan keras.

Demikian juga tidur setelah waktu Ashar (Aylulah), diambil dari kata illat, yang bermakna penyakit.

Kebiasaan tidur setelah Ashar secara kesehatan dapat menimbulkan beberapa efek samping, seperti datangnya penyakit, rentan mengalami stress dan depresi serta mengurangi kekuatan hafalan seseorang.  Maka, mayoritas mereka yang hobi tidur setelah Ashar, ketika bangun akan merasa letih dan lelah meskipun baru bangun dari tidur, dan pengin tidur lagi.

Terlebih tidur setelah shalat Maghrib, sangat tidak dianjurkan, karena dapat menyebabkan lalai shalat Isya padaawal waktu. Seperti disebutkan di dalam hadits:


«أنَّ النَّبيّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَسْتَحِبُّ أَنْ يُؤَخِّرَ الْعِشَاءَ، قَالَ: وَكَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَهَا، وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا»

Artinya: “Bahwasannya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam suka untuk mengakhirkan waktu Isya’, membenci tidur sebelumnya, dan membenci bincang-bincang setelah Isya’.” (HR Bukhari dan Muslim).
jendela dakwah

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel